RECOMMENDED

ads ads

Jelek dan Buruk

Contoh:
1.    Penegakan hukum di Indonesia masih jelek.
2.    Dalam pemberantasan korupsi selama ini, pemerintahan Yudoyono dipersepsikan sangat buruk oleh publik.

Pemakaian kata jelek dan buruk dalam contoh itu menunjukkan anggapan bahwa dua kata tersebut adalah sinonim. Bagaimana pemakaian kata jelek dan buruk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi Keempat?

Di KBBI tersua tiga kelompok arti jelek. Pertama, jelek berarti tidak enak dipandang mata atau buruk tentang wajah. Kedua, jelek berarti tidak menyenangkan, tidak menenteramkan, tidak membahagiakan, jahat, atau tidak baik tentang watak. Ketiga, sebagai kiasan, jelek berarti tercemar seperti dalam ”karena ia melakukan korupsi, namanya jadi jelek”.

Begitu pula dengan kata buruk. Ia diberi tiga kelompok arti. Pertama, buruk berarti rusak atau busuk karena sudah lama, seperti dalam ”memakai kain buruk”. Kedua, berkaitan dengan kelakuan, misalnya, buruk berarti jahat atau tidak menyenangkan seperti dalam ”kelakuannya sangat buruk”. Ketiga, menyangkut muka atau rupa, buruk berarti tidak cantik, tidak elok, jelek.

Jadi, ditimbang dari keterangan yang kita peroleh dari KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat, jelek dan buruk bisa saling dipertukarkan.

Semantik, menurut pakar linguistik, almarhum Prof. Dr. Anton M. Moeliono, yang kondang itu, masyarakat luaslah yang menentukan diterima tidaknya penggunaan dan pengartian suatu istilah. Misalnya, istilah ”kabinet RI Jilid II” ia anggap aneh. Namun, jika masyarakat luas menerimanya, kata Anton, kita tak usah menentangnya. Lain halnya jika kita bicara soal gramatika. Dalam hal ini, menurut Anton, ketentuan yang telah digariskan berdasarkan riset ilmiahlah yang sahih, harus kita patuhi.

Jadi, kata jelek dan buruk kiranya boleh dianggap sinomim saja. (dari: kompascetak.com)

No Response to “Jelek dan Buruk” »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Spam Protection by WP-SpamFree