RECOMMENDED

ads ads

Tanggal Tua

Pada bagian awal roman lawas Mochtar Lubis, Djalan Tak Ada Udjung (1952), diperkenalkan tokoh Isa. Di tengah kecamuk revolusi, guru sekolah yang lembut dan sederhana itu galau menatap masa depannya. Kegalauan itu terlukis dalam frase pendek-pendek (dalam Ejaan Soewandi), ”Banjak jang ditakutinja timbul. Hari depan jang kabur dan menakutkan. Keselamatan istri dan anaknja. Penghidupan jang semakin mahal. Dan gadji jang tidak cukup. Hutang pada warung jang sudah dua bulan tidak dibajar. Sewa rumah jang sudah dihutang tiga bulan. Perhiasan istrinja di padjak gadai.”

Di alam kemerdekaan ini gambaran tentang Guru Isa itu seperti tampil kembali pada Wito. Saban bulan munsyi sekolah dasar itu dikepung biaya kebutuhan hidup yang jumlahnya jauh melampaui gaji resminya. Biasanya begitu menerima upah setiap awal bulan ia langsung menyisihkan uang membeli beras, membayar sewa rumah beserta segala macam rekening, uang jajan dua orang anaknya ke sekolah, mencicil utang di koperasi, dan transpor dirinya sendiri. Istrinya yang setia menjaga ”garis belakang” mengelola sedikit sisanya untuk keperluan sehari-hari. Setelah itu, berselang dua-tiga hari lepas tengah bulan, dia katakan, ”tertatih dalam tanggal tua” hingga muncul bulan baru berikutnya.

Ungkapan tanggal tua sudah lama beredar di kalangan masyarakat berpenghasilan kurang atau pas-pasan. Pegawai negeri sipil rendahan yang semata-mata mengandalkan gaji bulanan, misalnya, sangat terpengaruh oleh ungkapan itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, tanggal tua berarti ’akhir bulan’; sebaliknya tanggal muda adalah ’awal bulan’. Diungkap lebih rinci, tanggal tua berasosiasi dengan bokek; sedangkan tanggal muda berarti kantong sedang tebal-tebalnya. Penjelasan itu bisa dimengerti, tetapi menyisakan pertanyaan apakah ”akhir bulan” itu berarti tanggal 30/31; demikian pula apakah ”awal bulan” pada tanggal muda jatuh tepat tanggal satu setiap bulan berjalan.

Dalam kenyataan tanggal tua kerap mengacu kepada waktu yang tiba lebih cepat sebelum akhir bulan, seperti dialami Pak Guru tersebut. Biasanya seberapa tua suatu tanggal akan ditetapkan sendiri oleh yang merasa terlibat di dalamnya. Begitu hari-hari dirasakan berjalan seret karena uang di kantong mulai cekak, sementara kebutuhan yang harus dibayar masih berdesakan, orang akan mengatakan ”sedang tanggal tua.” Tentang hal itu KBBI merekam satu ungkapan serupa, tanggung bulan, yang berarti ”sudah lebih dari pertengahan bulan”. Kedua ungkapan itu pada dasarnya mengatakan hal yang sama: tipis sudah, atau malah tiada lagi, sisa uang di bawah bantal.

Berbeda dengan istilah penduduk usia tua/muda dalam demografi yang bisa diukur secara statistik dalam suatu perampatan, tanggal tua (dan muda) bersifat unik dan empirik. Secara imajinatif ungkapan itu melukiskan keadaan sosial-ekonomi yang serba-kurang pada sebagian besar orang di negeri kita. Sedemikian cingkrang kehidupan itu sehingga ungkapan tanggal muda pun terkadang hanya bermakna sebagai lintasan waktu yang cepat berlalu untuk kemudian dihadapkan pada realitas sosial yang sebenarnya: pengeluaran untuk kebutuhan hidup jauh lebih besar ketimbang pendapatan yang diterima.

Tanggal tua bukanlah istilah astronomi, tetapi kredo tentang kesejahteraan rakyat yang kusam. Mungkin pula istilah itu dekat dengan subsistence seperti dikenalkan James Scott dalam The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia (1976). Dalam subsistensi, penghasilan petani hanya cukup memenuhi kebutuhan makan sehari-hari rumah tangga, tanpa surplus. Atau, malah minus. (oleh:KASIJANTO SASTRODINOMO, kompascetak)

No Response to “Tanggal Tua” »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Spam Protection by WP-SpamFree