<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>blog.wisma-bahasa.com</title>
	<atom:link href="http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.wisma-bahasa.com</link>
	<description>another wisma bahasa weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jul 2010 07:59:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Malahan dan Bahkan</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=93</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=93#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 07:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahkan]]></category>
		<category><![CDATA[malahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Kata bahkan dan malahan mempunyai fungsi dan pola pemakaian yang sama dalam bahasa Indonesia. Kedua kata itu dapat digunakan sebagai penghubung intrakalimat dan dapat pula digunakan sebagai penghubung antarkalimat. Sebagai penghubung intrakalimat, kata itu berposisi di antara bagian pertama dan bagian kedua yang tiap bagian itu dapat berupa kata, frasa, atau klausa. Sedangkan sebagai penghu­bung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata <em>bahkan </em>dan <em>malahan </em>mempunyai fungsi dan pola pemakaian yang sama dalam bahasa Indonesia. Kedua kata itu dapat digunakan sebagai penghubung intrakalimat dan dapat pula digunakan sebagai penghubung antarkalimat. <span id="more-93"></span>Sebagai penghubung intrakalimat, kata itu berposisi di antara bagian pertama dan bagian kedua yang tiap bagian itu dapat berupa kata, frasa, atau klausa. Sedangkan sebagai penghu­bung antarkalimat, kata itu berposisi di awal kalimat pada bagian kedua. Pada kalimat (1) kata <em>bahkan </em>dan <em>malahan </em>berfungsi sebagai penghubung intrakalimat, sedangkan pada katimat (2) kata itu bertungsi sebagai penghubung antarkalimat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.      a). Berpuluh-puluh tahun, berates-ratus tahun, <em>bahkan</em> beribu-ribu tahun, kuda merupakan alat angkut    yang paling cepat.</p>
<p style="padding-left: 60px;">b). Berpuluh-puluh tahun, berates-ratus tahun, <em>malahan</em><em> </em>beribu- ribu tahun<em>, </em>kuda merupakan alat angkut yang paling cepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.     a) Ia tega mengurung anak itu. <em>Bahkan</em> ia juga tega membunuhnya.</p>
<p style="padding-left: 60px;">b). Ia tega mengurung anak itu. <em>Bahkan</em> ia juga tega membunuhnya.</p>
<p>Baik sebagai penghubung intrakalimat maupun antarkalimat, kedua kata itu menyatakan bahwa bagian kedua lebih tinggi intensitasnya daripada bagian pertama. Pada kalimat (1) <em>beribu-ribu </em>lebih tinggi nilai jumlahnya daripada <em>beratus-ratus </em>dan<em> berpuluh-puluh, </em>dan pada kalimat (2) <em>membunuh </em>lebih tinggi tingkat kesadisannya dari pada sekadar <em>mengurung.</em><em></em></p>
<p style="padding-left: 30px;">Sebagai penghubung intrakalimat, <em>bahkan </em>dan m<em>alahan </em>seringkali bersifat  manasuka/bebas  kehadirannya. Kehadirannya berfungsi sebagai penegas.</p>
<p style="padding-left: 30px;">3.      a). Ia sangat mengasihi dan menyayangi umatnya, <em>bahkan </em>yang paling hina sekalipun.</p>
<p style="padding-left: 30px;">b). Ia sangat mengasihi dan menyayangi umatnya, <em>bahkan </em>yang paling hina sekalipun.</p>
<p>Kata <em>bahkan </em>dan <em>malahan </em>dapat digunakan sebagai penghubung antarklausa dalam kalimat majemuk.</p>
<p style="padding-left: 30px;">4.      a).  Ia membeli semua pakaian,<em> bahkan</em> tidak membedakan warna dan ukurannya</p>
<p style="padding-left: 60px;">b).  Ia membeli semua pakaian, <em>malahan </em>tidak membedakan warna dan ukurannya</p>
<p style="padding-left: 30px;">5.      a).  Mereka tidak mematuhinya <em>bahkan</em> beramai-ramai melanggar peraturan itu.</p>
<p style="padding-left: 60px;">b).  Mereka tidak mematuhinya <em>malahan</em> beramai-ramai melanggar peraturan itu</p>
<p>Dalam satuan paragraf, kedua kata itu dapat merangkaikan pengertian yang telah diungkapkan dalam beberapa kalimat sebelumnya dengan kalimat yang diawali dengan kata itu. Misalnya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">6.    a). Setelah sekian tahun lamanya, ia benar-benar menyesali tindakannya. Berulang kali ia menangis dalam tidurnya. Setiap hari kerjanya hanyalah meratapi kesalahan demi kesalahan yang pernah dibuatnya. <em>Bahkan, </em>ia pernah pula mencoba mengakhiri hidupnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">b).  Secara mudah Ia menolak usulan anak buahnya. Karena itu, ia beberapa kali diperingatkan oleh atasannya. Tahun ini secara resmi ia diberhentikan dari tugasnya. <em>Malahan, </em>beberapa anak buahnya masih terus mengancamnnya.</p>
<p>Karena fungsinya sebagai penghubung antarkalimat atau intra­kalimat, pemakaian <em>bahkan </em>dan <em>malahan<strong> </strong></em>pada akhir kalimat hendaknya di­hindari, terutama di dalam ragam tulis resmi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Karena sangat marah, ia pernah memukul mukanya sendiri <em>bahkan.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;">Pekerjaannya tidak ada yang betul <em>malahan</em>.<em> (sumber: Pusat bahasa)</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=93</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton Bareng</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=89</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=89#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 06:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[luna maya]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Frasa nonton bareng sangat populer karena selama Juni dan Juli ini perhatian orang di seluruh jagat sedang tertuju ke pertandingan sepak bola memperebutkan Piala Dunia. Pertandingan itu berlangsung di Afrika Selatan dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Maka logikanya, orang di seluruh jagat memang bisa nonton bareng ’secara serentak, bersamaan’. Tampaknya yang dimaksudkan dengan nonton [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Frasa nonton bareng sangat populer karena selama Juni dan Juli ini  perhatian orang di seluruh jagat sedang tertuju ke pertandingan sepak  bola memperebutkan Piala Dunia. Pertandingan itu berlangsung di Afrika  Selatan dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Maka <span id="more-89"></span>logikanya,  orang di seluruh jagat memang bisa nonton bareng ’secara serentak,  bersamaan’.</p>
<p>Tampaknya yang dimaksudkan dengan  nonton  bareng bukan seperti itu. Nonton bareng adalah datang di satu tempat:  hotel, restoran, mal, atau tempat umum lain, termasuk  lapangan RT/RW.  Di sana ada layar besar, lalu acara siaran langsung pertandingan sepak  bola memperebutkan Piala Dunia itu mereka tonton beramai-ramai. Istilah  yang tepat untuk nonton bareng yang sedang populer itu adalah nonton  beramai-ramai sebab kalau sekadar bareng,  semua siaran langsung memang  pasti ditonton secara bareng (secara berbarengan, secara serentak) meski  dari tempat berbeda-beda.</p>
<p>Mengapa untuk menonton film di gedung  bioskop tidak digunakan frasa nonton bareng atau nonton beramai-ramai?  Yang lazim digunakan malahan nonton berduaan. Nonton berduaan berarti  pasangan itu sedang berpacaran atau sedang berselingkuh sebab kalau  laki-laki nonton dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan,  tidak pernah disebut nonton berduaan. Meskipun film di gedung bioskop  itu ditonton banyak orang secara bersamaan, mereka satu sama lain tidak  saling kenal. Tidak ada perasaan ”senasib sepenanggungan” seperti halnya  pada nonton bareng perebutan Piala Dunia.</p>
<p>Dalam Kamus Besar  Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, kata bareng  lebih dimaknai  sebagai bersamaan waktunya, bukan tempatnya. Ini sesuai dengan  penjelasan entri bareng dalam Bausastra Djawa WJS Poerwadarminta. Bareng  yang diadopsi dari kosakata bahasa Jawa diartikan sebagai ’toenggal  wektoe enggone toemindak’ (bersamaan waktunya, dalam bertindak).  Tampaknya sedang terjadi pergeseran makna kata bareng dari bersamaan  waktu ke bersamaan tempat.</p>
<p>Pergeseran makna ini pun masih sebatas  pada makna khusus, yakni menonton peristiwa olahraga penting. Terutama  pertandingan sepak bola dan bulu tangkis yang disiarkan langsung oleh  televisi sebab ketika ada pertandingan sepak bola atau bulu tangkis di  Stadion Utama dan Istora Senayan, frasa nonton bareng itu tak terpakai.  Tidak pernah ada promosi: ”Yuk, nonton bareng final liga &#8230;.. di  Senayan!” Padahal jelas, ketika berlangsung pertandingan bulu tangkis  atau sepak bola di Senayan, orang pasti menonton berbarengan, baik waktu  maupun tempatnya.</p>
<p>Kata bareng dalam frasa nonton bareng  tampaknya memang akan tetap berada pada makna khusus sebab dengan  pengertian yang sama, kita tidak pernah menggunakan frasa makan bareng,  melainkan makan bersama. Padahal, pengertian yang ingin diwadahi sama:  beberapa orang, yang satu sama lain saling kenal, akan berkumpul di  suatu tempat dalam waktu bersamaan untuk makan. Karena makna kata bareng  lebih ditujukan untuk mewadahi pengertian waktu, maka saya bisa saja  mengatakan sering tidur bareng dengan Luna Maya. Waktunya yang  bersamaan, sementara tempatnya: dia di rumahnya, saya di rumah saya  sendiri. (<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/07/02/04234963/nonton.bareng" target="_blank">Kompas cetak</a>, oleh: F Rahardi <em>Sastrawan)</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=89</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Endurance&#8221;</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=87</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=87#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 02:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[miss indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[miss universe]]></category>
		<category><![CDATA[miss world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Final pemilihan Miss Indonesia 2010 tempo hari menarik diberi catatan. Tiga finalis yang diunggulkan sebagai calon miss dan runner up ternyata tidak bisa menjawab pertanyaan berbahasa Inggris yang diajukan pembawa acara. Ketiganya tak paham arti kata endurance yang merupakan inti soal ”ujian akhir” itu. Bukan hal aneh karena pemenang kontes serupa dalam ajang yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Final pemilihan Miss Indonesia 2010 tempo  hari menarik diberi catatan. Tiga finalis yang diunggulkan sebagai calon  miss dan runner up ternyata tidak  bisa menjawab pertanyaan berbahasa Inggris yang diajukan pembawa acara.  Ketiganya tak paham arti kata endurance yang <span id="more-87"></span>merupakan inti soal ”ujian akhir” itu. Bukan  hal aneh karena pemenang kontes serupa dalam ajang yang lebih besar,  Miss Universe dan Miss World, juga tak selalu fasih berbahasa Inggris.  Bahkan, panitia memberikan toleransi dengan menyediakan jasa penerjemah.</p>
<p>Mafhumi  saja kekurangan putri-putri jelita itu dengan keyakinan bahwa mereka  tentu akan belajar lagi jika tak ingin malu berkepanjangan. Justru sikap  berbahasa pasangan pembawa acara yang patut disayangkan karena tak  tertata semestinya. Kemampuan berbahasa Inggris keduanya jelas prima,  tetapi jadi anjlok nilainya ketika molah-malih ke bahasa gaul sekenanya.  Sapaan ”kamu” kepada para kontestan, misalnya, jelas bukan pilihan  estetika bahasa yang elok untuk acara resmi yang dirancang anggun. Akan  terasa indah jika mereka berduet berdwibahasa, Indonesia dan Inggris,  secara utuh, baik, dan benar tanpa mengurangi keluwesan.</p>
<p>Nomina  endurance yang berarti ”daya tahan”, ”ketahanan”, dan ”kesabaran” boleh  jadi jarang muncul dalam percakapan sehari-hari bahasa Inggris di sini.  Frase contoh dalam Kamus Inggris-Indonesia Echols-Shadily mengisyaratkan  kata itu bertalian dengan tujuan atau situasi tertentu yang kritis.  Misal, endurance test atau ujian tentang ketahanan cocok untuk mengukur  kekuatan mesin otomotif. Beyond endurance, ”tak tertahankan lagi”,  memerikan penderitaan atau kesakitan yang luar biasa. Demikian pula to  have great powers of endurance atau ”tabah sekali, memiliki daya tahan  yang besar” hanya terasakan mendalam bagi yang (pernah) menderita  lahir-batin.</p>
<p>Dalam wacana sosio-humaniora, endurance tepat  menakrifkan ketabahan golongan terpinggirkan seperti petani subsisten  (istilah James Scott), petani gurem (Sajogyo), massa apung kota (Hans  Dieter-Evers), dan mereka yang senasib lainnya. Di pundak dan batin  merekalah endurance tertanam kuat untuk menghadapi musim paceklik,  banjir, hama, spekulan, dan semacamnya. Dalam situasi seperti itu,  endurance bertaut erat dengan subsistence ethic, meminjam istilah Scott,  yakni berbagi beban di antara mereka yang didera petaka sebagai ”a  consequence of living so close to the margin” (dalam suntingan Teodor  Shanin, Peasants and Peasant Societies, 1987).</p>
<p>Menimbang,  mengingat, dan memerhatikan kenyataan sosial kita yang masih berkelam  kabut kemiskinan, kelaparan, dan bencana, layak rasanya jika ”kuman”  endurance terus dibiakkan untuk menumbuhkan optimisme hidup. Tentu harus  dibarengi kerja keras para pemimpin mengangkat kaum papa dari kehidupan  yang halai-balai. Percayalah, yang mereka perlukan bukan dana aspirasi,  melainkan kejujuran dan ketulusan bertindak yang nyata.</p>
<p>Pertanyaan  panitia pemilihan Miss Indonesia ihwal ”stamina” tersebut bermakna  serius. Di tengah isu kekerasan terhadap perempuan dan gerakan  kesetaraan jender yang kian kencang, kata endurance menjadi konsep  imperatif bagi miss kinyis-kinyis itu. <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/25/03184317/endurance" target="_blank">(Kompas Cetak: KASIJANTO  SASTRODINOMO <em>Pengajar pada Fakultas Ilmu  Pengetahuan Budaya UI)</em></a></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=87</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lisan dan Tulisan</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=84</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=84#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 02:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis,” kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010. Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan  tulis,” kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010.  Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan  ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan,  teks menjadi <span id="more-84"></span>makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya  bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa  lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan.  Hakikat bahasa tidak lagi lisan.</p>
<p>Baik dunia oral maupun literer  kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan  sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya  itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria  (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah  mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan  saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal  peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.</p>
<p>Tulisan jauh lebih  akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses,  dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan  seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan,  tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi  sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat  tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep  kemiskinan dan ketakberdayaan.</p>
<p>Filsuf Yesuit dan pakar ilmu  bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang berkontras  dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat  memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan kosakata sedikit, tata bahasa  sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai,  ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula  seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal di dunia Melayu, yang  tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.</p>
<p>Guru-guru  yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal,  bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia  tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah  mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi,  dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama  olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu  dinamis menatap masa depan.</p>
<p>Dunia oralitas juga penuh dengan  ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan  lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan,  kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan  dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya  makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan  memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan  tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan  berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses  berpikir canggih. Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran  meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.<em> (oleh: SAMSUDIN  BERLIAN &#8211; Pemerhati Makna Kata &#8211; sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/18/03391992/lisan.dan.tulisan" target="_blank">kompas cetak</a>)<br />
</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=84</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Great Wall</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=82</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=82#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 02:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Konon anda bukan seorang berani kalau belum pernah pergi ke Great Wall. Saya pikir Great Wall adalah tempat yang paling terkenal di Cina. Dia terletak di sebelah utara Beijing. Dia dibuat dari batu. Panjangnya 8851, 8 km. Konon Great Wall bisa dilihat dari bulan. Banyak kaisar Cina membuat Great Wall untuk perlindungan tentara. Great Wall [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon anda bukan seorang berani kalau belum pernah pergi ke Great Wall. Saya pikir Great Wall adalah tempat yang paling terkenal di Cina. Dia terletak di sebelah utara Beijing. Dia dibuat dari batu. Panjangnya 8851, 8 km. Konon Great Wall bisa dilihat dari bulan.<span id="more-82"></span></p>
<p>Banyak kaisar Cina membuat Great Wall untuk perlindungan tentara. Great Wall dibuat selama berabad-abad. Beribu-ribu buruh meninggal ketika bekerja di sana. Ada cerita tentang seorang wanita bernama Meng Jiang Nu yang suaminya menjadi buruh Great Wall. Ketika Meng Jiang Nu mengunjungi suaminya, dia tahu bahwa suaminya sudah meninggal dan mayatnya hilang. Dia sangat sedih sehingga menangis berhari-hari. Air matanya memusnahkan Great Wall, lalu dia menemukan mayat suaminya di bawah bebatuan.</p>
<p>Saya berlibur ke Great Wall tiga thun yang lalu, tetapi masih ingat keadaannya. Dia panjang, tua, indah, dan ramai. Banyak orang berjalan naik ke Great Wall. Kebanyakan mereka orang Cina. Saya berdiri di tempat tinggi Great Wall sambil melihat orang-orang di bawanya. Mereka tampak seperti semut yang berjalan pelan-pelan karena mereka jauh dari saya. Great Wall panjang sekali dan kebanyakan rusak sehingga saya hanya bisa naik sedikit bagian Great Wall. Saya mau kembali lagi ke Great Wall. Mungkin saya akan naik bagian lain Great Wall. <em>(Oleh: Xiaolin Zhuo / Post Beginner)</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=82</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehendak Kekasih Ketua</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=80</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=80#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 01:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Livain Lubis (almarhum), Dosen dan mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, mengatakan, bahasa Indonesia hanya mengenal tiga patah kata berawalan ke-: kehendak, kekasih, dan ketua. Berbeda dengan imbuhan ke-an, maka awalan ke- disebut kurang atau tidak produktif. Artinya, awalan ke- jarang sekali dipakai terhadap kata-kata lain, termasuk bentuk baru kata-kata bahasa Indonesia mutakhir. Musim berganti, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Livain Lubis (almarhum), Dosen dan mantan Dekan Fakultas Sastra <a href="http://www.unpad.ac.id/" target="_blank">Universitas Padjadjaran</a>, mengatakan, bahasa Indonesia hanya mengenal tiga patah kata berawalan ke-: kehendak, kekasih, dan ketua. Berbeda dengan imbuhan ke-an, maka awalan ke- disebut kurang atau tidak <span id="more-80"></span>produktif. Artinya, awalan ke- jarang sekali dipakai terhadap kata-kata lain, termasuk bentuk baru kata-kata bahasa Indonesia mutakhir.</p>
<p>Musim berganti, zaman berlalu. Belakangan terjadi interferensi yang semakin lama semakin kuat, teristimewa dari bahasa Betawi dan Jawa, mengguncang bahasa Indonesia sehingga muncullah kata-kata ”berawalan” ke- ecek-ecek dalam pertuturan kita. Contoh kasus ini cukup banyak. Sebutlah umpamanya: kebanting, keganggu, kemakan, kesenggol, atau ketukar.</p>
<p>Ada ahli berpendapat, ”awalan” ke- yang berasal dari pengaruh bahasa Betawi dan Jawa itu sebaiknya dan sebenarnya dapat diganti dengan awalan ter- agar pembentukannya menjadi baku. Maka, disarankan mengganti kebanting menjadi terbanting, keganggu &gt; terganggu, kemakan &gt; termakan, kesenggol &gt; tersenggol, dan ketukar &gt; tertukar. Sampai di sini semua beres belaka. Cuma ada beberapa kata yang belum biasa kita gunakan: tertemu, walaupun sinonimnya, tersua, cukup sering kita pakai.</p>
<p>Mengapa kita tidak menerima ”awalan” ke- bahasa Betawi dan Jawa? Bukankah bahasa Indonesia sendiri mengenal pula awalan ke- biarpun tidak produktif? Masalahnya, kita terbentur pada fungsi. Awalan ke- bahasa Indonesia sejatinya berfungsi membendakan atau menjadikan suatu kata menjadi kata benda. Perhatikan bahwa kehendak, kekasih, dan ketua masing-masing merupakan kata benda kendati golongan kata dasarnya berbeda (hendak: modalitas, kasih: kata benda, dan tua: kata sifat).</p>
<p>Edward de Bono mengajari kita berpikir lateral, ke samping. Kita boleh memperluas fungsi awalan ke-. Jika kita dapat membebaskan jerat fungsi awalan ke-, penyerapan kata-kata bahasa Betawi dan Jawa menjadi lebih leluasa. Fungsi awalan ke- bisa dikembangkan dan ditambah menjadi ”menyatakan mengalami (tak terhindarkan)”. Dengan demikian, kata-kata seperti kebanting, keganggu, kemakan, kesenggol, dan ketukar dapat kita pakai langsung sebagai kata-kata Indonesia.</p>
<p>Kita perlu menyadari bahwa bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis. Apabila sebentuk kata atau seuntai frasa sudah semakin sering dipertuturkan pendukung bahasa Indonesia, kedudukannya menjadi mantap. Akan tiba waktunya bahasa Indonesia memfasilitasinya menjadi kata atau frasa baru dan jika perlu, dengan memperbaru atau mengubah kaidah normatif: bergantung pada frekuensi pemakaian dan perubahan tabiat penutur Bahasa Indonesia.</p>
<p>Benarkah frasa gue banget yang sudah menjadi ikon generasi MTV itu? Jawabannya ada dua. Pertama, baik kata gue maupun banget belum diakui sebagai kata Indonesia, terutama oleh kelompok pruden. Kaidah bahasa Indonesia juga tak mengenal penggabungan kata ganti persona dengan kata keterangan kualitatif. Bentuk aku sekali jelas tidak berterima.</p>
<p>Saya sangat menggandrungi ungkapan gue banget yang luar biasa berkarakter ini. Pada hemat saya, lebih baik kita memilih jawaban kedua yang berbunyi sudah saatnya kita mengubah kaidah yang menyatakan kata ganti persona tak lazim digabungkan dengan kata keterangan kualitatif dan/atau mengakui bahwa selain kata ganti persona, gue juga kata sifat sehingga dapat disatukan dengan kata banget. (dari <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/11/06002823/kehendak.kekasih.ketua " target="_blank">Kompas Cetak</a> | oleh: Lie Charlie, <em>Sarjana Tata Bahasa Indonesia) </em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=80</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Martabat Tersangka</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=77</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=77#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 04:10:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Didesak beberapa anggota DPR dalam sebuah rapat terbuka, mantan Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji bersikukuh tak bersedia membeberkan siapa sesungguhnya ”Mr X” yang diduga menjadi makelar kasus perkara hukum di kepolisian. Alasannya, ia tak ingin melanggar hukum dengan menyebut nama lengkap orang yang baru terduga atau tersangka sebagai pelaku kejahatan. Pesan moral yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Didesak beberapa anggota DPR dalam sebuah  rapat terbuka, mantan Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Susno  Duadji bersikukuh tak bersedia membeberkan siapa sesungguhnya ”Mr X”  yang diduga menjadi makelar kasus perkara hukum di kepolisian.  Alasannya, ia tak ingin <span id="more-77"></span>melanggar hukum dengan menyebut nama lengkap  orang yang baru terduga atau tersangka sebagai pelaku kejahatan. Pesan  moral yang tertangkap adalah meski seseorang ditengarai melakukan tindak  pidana, martabatnya sebagai manusia harus tetap dijaga.</p>
<p>Nama  samaran, seperti Mr X, atau inisial nama diri semisal ZZ atau Jr biasa  digunakan sebagai bahasa proses hukum yang melindungi tersangka tetap  sebagai manusia bermartabat. Istilah tersangka sendiri bertolak dari  anggapan bahwa seseorang belum tentu bersalah sebelum diuji di meja  hijau meski telah ditemukan bukti kejahatannya. Varian tersangka adalah  terperiksa yang berlaku di kalangan internal kepolisian. Sebelum  penetapan status tersangka, biasa digunakan frase patut diduga sebagai  bentuk kehati-hatian. Asas praduga tak bersalah merupakan prinsip yang  menghargai harkat kemanusiaan bagi mereka yang bermasalah hukum.</p>
<p>Para  pengacara juga biasa memoles gengsi tersangka dengan ujaran bahwa  kliennya datang ke pemeriksaan ”atas inisiatif, kemauan, atau kesadaran  sendiri”. Maknanya, sang klien adalah orang yang sadar dan taat hukum  serta ksatria. Sebaliknya, dijemput paksa atau ditangkap diterapkan bagi  tersangka yang tidak kooperatif. Pada masa lalu kita juga mengenal  penghalusan istilah proses hukum, seperti diamankan (ditangkap),  dimintai keterangan (diinterogasi), dan diinapkan (ditahan). Kritik yang  muncul adalah penghalusan itu bukan wujud penghormatan terhadap hak  manusiawi tersangka, melainkan eufemisme bahasa untuk menyembunyikan  kekejaman rezim.</p>
<p>Jadi, alangkah rapuhnya martabat tersangka.  Desakan anggota DPR kepada Susno Duadji agar membuka misteri ”Mr X” di  depan publik mencerminkan niat menepis asas praduga tak bersalah.  Logikanya, buat apa membentengi nama jika sosoknya sudah ceta wela-wela  bin gamblang di depan khalayak. Publik sendiri, termasuk media, mungkin  karena gemas, merasa tak perlu rikuh menyebut nama asli tersangka. Atau,  mereka akan menyemburkan idiom sadistis menurut versinya: disergap,  dibekuk, dicokok, diciduk, digiring, diseret, digelandang, dijebloskan,  dan entah apa lagi, untuk menyudutkan tersangka kriminal.</p>
<p>Jangan  salahkan publik jika akhirnya mereka memilih kata yang mungkin bermakna  ”degradatif” terhadap rimba peradilan, khususnya bagi tersangka tindak  culika. Kalau saja sengkarut proses hukum kita bisa diurai secara jelas,  jujur, dan terbuka, martabat tersangka niscaya terjaga dengan  sendirinya, dan ungkapan ”kasar” pun akan sirna.</p>
<p>Di Yogyakarta,  seorang teman membujuk saya mengunjungi SgPc yang mula-mula sangat dia  rahasiakan. Saya siap menerima ajakannya asalkan dia bersedia membuka  siapa sesungguhnya ”Mr SgPc” itu. Melegakan, inisial itu ternyata  (warung) sega pecel di sudut kampus yang rindang. ** <em>Oleh </em><strong><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/23/03130465/martabat.tersangka" target="_blank"><em>KASIJANTO SASTRODINOMO | Kompas Cetak</em></a><br />
</strong></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=77</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gula Merah dan Air Putih</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=74</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=74#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Air putih sebagai sebutan untuk air minum yang bersih lazim kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, yang kita sebut air putih itu tidak berwarna putih. Yang lebih tepat disebut air putih adalah air susu karena, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, yang disebut putih adalah warna dasar yang serupa dengan warna kapas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Air putih sebagai sebutan untuk air minum  yang bersih lazim kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal,  yang kita sebut air putih itu tidak berwarna putih. Yang lebih tepat disebut air putih adalah air susu karena,  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa <span id="more-74"></span>Edisi Keempat, yang disebut   putih adalah warna dasar yang  serupa dengan warna kapas. Putih air susu  seperti kapas. Setahu saya,  di negeri ini tak ada sungai, danau, sumur, atau perusahaan air minum  yang memproduksi air seputih kapas itu.</p>
<p>Menurut  kamus yang sama, air adalah cairan jernih tak berwarna, tak berasa, dan  tak berbau yang diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan  yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen. Selain itu, air  juga berarti benda cair yang biasa terdapat di sumur, sungai, danau yang  mendidih pada suhu 100 derajat celsius. Di kamus itu  disebutkan juga  bahwa yang dimaksudkan dengan jernih adalah terlihat terang (tentang  air); bening; bersih; tidak keruh. Keterangan ini cukup jelas. Kalau  begitu, mengapa air minum disebut air putih, bukan air jernih, air  bersih, atau air saja?</p>
<p>Ternyata sebutan air putih ini lahir  begitu saja tanpa kesepakatan bersama, kemudian diterima masyarakat  tanpa keberatan atau catatan. Yang menarik, KBBI sendiri tak menolak  sebutan air putih. Sebagai sebuah entri, air putih adalah air tawar yang  dapat diminum atau air yang masih asli dan belum dicampur apa-apa. Saya  sendiri cenderung menyebut air putih dengan air minum atau air saja  karena  memang tidak putih seperti kapas.  Masihkah Anda tetap ingin  menggunakan sebutan air putih?</p>
<p>Tanpa rasa curiga bahwa orang kita  buta warna, bagi saya terdengar aneh ketika kita menyebut gula kelapa,  atau gula nyiur, atau gula jawa sebagai gula merah, padahal warna gula  itu kecoklat-coklatan, bukan merah. Karena merah adalah warna dasar yang  serupa dengan warna darah (juga menurut KBBI). Walaupun demikian, KBBI  tetap mencantumkan gula merah sebagai entri. Artinya frasa itu tidak  ditolak.</p>
<p>Dalam kedua contoh di atas, warna menjadi tak penting  karena itu kita mengabaikannya. Selama orang paham  maknanya, warna tak  perlu dipersoalkan. Bahasa Inggris menyebut gula berwarna agak coklat  itu brown sugar. Itu bukan urusan kita. Meski bukan urusan kita,  brown  sugar, saya rasa,   lebih tepat. Cuma kalau dalam bahasa Indonesia, saya  lebih suka menyebutnya gula jawa.</p>
<p>Sebenarnya tak benar kalau  orang kita disebut mengabaikan warna. Buktinya, cabai berwarna merah  kita sebut cabai merah, begitu pula cabai hijau, bawang merah, bawang  putih, kacang hijau, ketan hitam, beras merah, dan lain-lain.  Ketakajekan  berbahasa seperti ini terjadi dalam banyak bahasa. Tak  hanya dalam bahasa Indonesia. Saya tak paham apakah ini dapat  menyebabkan salah kaprah.</p>
<p>Yang pasti, kita tak dapat menyebutnya  salah kaprah jika warna digunakan dalam arti kiasan. Sebagai kiasan,  benda yang menggunakan warna  memiliki makna khusus. Benang merah sama  sekali tak berarti benang berwarna merah, tetapi memiliki makna lain:   sesuatu yang menghubungkan beberapa hal (faktor) sehingga menjadi satu  kesatuan. Demikian pula benang putih, sebagai kiasan, ia tidak bermakna  lain kecuali: yang belum ternoda, seperti anak yang masih kecil.<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/09/05305414/air.putih.dan.gula.merah" target="_blank"> (Kompas/Sori  Siregar <em>Cerpenis)</em></a></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=74</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susahnya Membeli Rumah</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=72</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=72#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 06:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Ketika musim gugur berubah menjadi musim dingin dan matahari nyaris tak kuat mengangkat diri ke atas cakrawala, tak aneh bila penghuni negeri dingin dan gelap ini kadang-kadang bermimpi tentang tanah tropis Indonesia yang memesona jauh di sana. baca selengkapnya&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika musim gugur berubah menjadi musim dingin  dan matahari nyaris tak kuat mengangkat diri ke atas cakrawala, tak aneh  bila penghuni negeri dingin dan gelap ini kadang-kadang bermimpi  tentang tanah tropis Indonesia yang memesona jauh di sana. <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/12/02540093/susahnya.beli.rumah" target="_blank"><em>baca selengkapnya&#8230;</em></a></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=72</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerbau</title>
		<link>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=70</link>
		<comments>http://blog.wisma-bahasa.com/?p=70#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 06:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Learn Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.wisma-bahasa.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba kerbau masuk istana kepresidenan yang di Cipanas, Jawa Barat. Hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Tentu nasihat ini yang kita ajukan kepada para penjaga istana andaikan kerbau, yang bernama ilmiah Bos bubalus, benar-benar memasuki simbol kenegaraan itu. Kerbau yang saat ini menjadi pembicaraan publik hanyalah dari sudut buruknya sebagai simbol kelambanan.baca selengapnya&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba-tiba kerbau masuk istana  kepresidenan yang di Cipanas, Jawa Barat. Hati boleh panas, tetapi  kepala harus tetap dingin. Tentu nasihat ini yang kita ajukan kepada  para penjaga istana andaikan kerbau, yang bernama ilmiah Bos bubalus,  benar-benar memasuki simbol kenegaraan itu.  Kerbau yang saat ini menjadi pembicaraan publik  hanyalah dari sudut  buruknya sebagai simbol kelambanan.<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/05/03485168/bos.bubalus" target="_blank"><em>baca selengapnya&#8230;.</em></a></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.wisma-bahasa.com/?feed=rss2&amp;p=70</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
